KATADATA – Harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi berpotensi untuk diturunkan. Saat ini, pemerintah mengkaji kembali harga BBM tersebut seiring dengan turunnya harga minyak mentah dunia.
“Prinsipnya harga (BBM) subsidi tidak boleh melampaui harga keekonomian. Jadi sudah pasti, kalau kecenderungan (harga minyak) turun terus, akan ada peninjauan secara keseluruhan kebijakan subsidi,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said di Gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, Selasa (2/12).
Dia mengaku sudah berkoordinasi dengan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro untuk menghitung kembali besaran subsidi energi tersebut. Menurut dia, saat menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 2.000 per liter pada 18 November lalu, pemerintah masih memberikan subsidi Rp 500 per liter.
Pada acara yang sama, Bambang Brodjonegoro mengakui harga minyak dunia terus melemah. Namun, dia juga mengingatkan bahwa penerimaan dari pajak penghasilan (PPh) dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) minyak dan gas (Migas) juga ikut menurun.
Oleh sebab itu, penurunan harga minyak nasional (Indonesia Crude Price/ICP) tak lantas membuat pemerintah menurunkan harga BBM. “Ya pokoknya (PPh dan PNBP Migas) nggak sesuai target, karena nggak sesuai harganya,” tutur Bambang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, pemerintah saat ini terus memantau pergerakan harga minyak dunia. Meski mengalami penurunan, pemerintah belum mau mengambil kebijakan apa pun sebelum harga minyak mentah dunia stabil.
Dia menganggap, penurunan harga minyak dunia yang terjadi saat ini masih bersifat sementara. “Kalau tren ini sudah mulai stabil itu ada beberapa kebijakan yang tepat,” katanya.
Berdasarkan data Reuters, saat ini harga minyak jenis light crude untuk pengiriman Desember 2014 adalah US$ 64,6 per barel. Sementara harga minyak jenis brent berada di posisi US$ 68,4 per barel.
Harga minyak mentah Indonesia (ICP) juga menurun. Rata-rata ICP selama Oktober adalah US$ 88,72 per barel, turun dibandingkan sebulan sebelumnya yaitu US$ 94,97 per barel.
Selain itu, dia mengatakan, secara rata-rata harga minyak mentah Indonesia masih di atas asumsi APBN 2015. Rata-rata ICP sepanjang 2014 berada di posisi US$ 102,32 per barel. Sedangkan asumsi dalam APBN-P 2014 yaitu US$ 105 per barel. “Oleh karena itu kita perlu observe (pantau) dulu sampai akhir tahun,” ujarnya.