1 Januari 2015 mengawali tahun yang baru dan sekaligus
mengubah kebijakan pemerintah terhadap harga BBM, jenis premium pada awal tahun
2015 turun menjadi Rp. 7.600 untuk jenis premium dan untuk jenis solar 8.250
per liter dan itu berarti pemerintah mensubsidi Rp. 1000 rupiah perliter.
Harga minyak dunia pada bulan januari 2015 terus merosot yng
berate pemerintah membuat perhitungan BBM jenis solar dan premium seperti yang di
ungkapkan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil pemerintah akan
terus memantau harga minyak dunia yang pada saat ini sedang berada pada level
turun.
Prediksinya, penurunan harga
bakal berlangsung lama. Selama 2015, harga minyak tidak akan rebound sampai di
atas USD 70 per barel. Artinya, keputusan pemerintah untuk tidak memberikan
subsidi pada Premium tepat. Harga jual di masyarakat disebutnya masih oke di
kantong pembeli.
"Yang menarik, ada keyakinan bahwa harga rendah ini cukup lama. Paling tidak, sepanjang tahun ini masih di bawah USD70. Logikanya, tidak perlu subsidi," tuturnya.
Di luar itu, dia juga menyinggung soal kesempatan yang diberikan pemerintah kepada PT Pertamina untuk menghilangkan Premium dalam dua tahun. Menurutnya, itu bisa dipercepat karena waktu yang diberikan pemerintah bersifat selama-lamanya. Jadi, kemungkinan segera hilang masih terbuka.
Tim RTKM sendiri tetap mendorong agar produk RON 88 itu bisa lenyap dalam enam bulan saja. Salah satu caranya adalah menekan supay tidak ada kontrak baru pembelian minyak untuk Premium. "Kita dorong harus lebih cepat. Kalau menunggu dua tahun
"Yang menarik, ada keyakinan bahwa harga rendah ini cukup lama. Paling tidak, sepanjang tahun ini masih di bawah USD70. Logikanya, tidak perlu subsidi," tuturnya.
Di luar itu, dia juga menyinggung soal kesempatan yang diberikan pemerintah kepada PT Pertamina untuk menghilangkan Premium dalam dua tahun. Menurutnya, itu bisa dipercepat karena waktu yang diberikan pemerintah bersifat selama-lamanya. Jadi, kemungkinan segera hilang masih terbuka.
Tim RTKM sendiri tetap mendorong agar produk RON 88 itu bisa lenyap dalam enam bulan saja. Salah satu caranya adalah menekan supay tidak ada kontrak baru pembelian minyak untuk Premium. "Kita dorong harus lebih cepat. Kalau menunggu dua tahun